Sukses Menjadi Pengajar

Published by admin on

Pengajar adalah sebutan lain dari guru atau dosen, orang yang berprofesi menyampaikan ilmu-ilmu kepada murid-muridnya. Profesi ini merupakan sebuah aktifitas yang mulia, di samping profesi-profesi yang lain, karena selalu dipersepsikan kepada orang-orang pintar, pandai, cerdas dan banyak ilmu pengetahuan di dalam dirinya. Saking mulianya pekerjaan ini, masyarakat selalu memposisikan seorang pengajar atau guru atau dosen, status social yang tinggi di tengah-tengah komunitasnya. Perilaku masyarakat semacam ini sudah berlaku sejak zaman sebelum kemerdekaan bangsa Indonesia, bahwa menjadi seorang pengajar adalah pekerjaan yang mulia dan sangat dibutuhkan di masyarakat. Kadang kita mendapati seorang guru pendatang di daerah tertentu, walaupun baru biasanya masyarakat mudah menerima dan menghormatinya. Maka tidak heran kalau perguruan tinggi kita baik yang perguruan tinggi agama atau perguruan tinggi umum selalu banyak peminat calon mahasiswa baru yang mengambil program studi keguruan atau tarbiyah. Ekspectasinya bermacam-macam, ada di anatara mereka ingin menjadi guru atau dosen karena pfofesi ini dimiliki oleh orang-orang yang status social terhormat ditengah-tengah masyarakat, sebagaian yang lain melihat bahwa kehidupan guru dan dosen sederhana, tidak neko-neko, taat beribadah, dan lebih tumakninah untuk membina sebuah keluarga. Tetapi juga ada yang melihat secara pragmatis menjadi guru atau dosen karena menginginkan tunjangan gurunya. Banyak ekspektasi yang dimiliki oleh para calon guru atau orang tuanya menjadikan pengaar sebagai profil ideal kehidupan bermasyarkaat dan bangsa.

Dalam perspektif yang lain keunikan seorang guru atau pengajar adalah rutinitas pekerjaannya sehari-hari. Seorang guru bertugas menyampaikan ilmu-ilmu yang dia miliki kepada murid-muridnya dengan berbagai etika dan adab dalam ilmu tarbiyah atau pendidikan. Taruhlah etika seorang guru harus menjadi miniatur kehidupan sesuai dengan ilmu yang dimiliki. Seorang yang berprofesi sebagai guru fiqih, maka performannya adalah seorang ahli hukum Islam, seorang yang menjadi guru kesehatan menampilkan dirinya sebagai orang yang sehat dan bersih, orang yang berilmu matematika menampilkan dirinya sebagai orang yang pandai dalam kalkulasi atau itung-itungan matematis dan lain sebagainya. Artinya seorang pengajar dengan keilmuanya bisa mentranformasikan keilmuannya dalam kehidupan social di lingkungannya masing-masing, baik lingkungan sekolah atau kampus dan lingkungan sekolah secara umum.

Saya jadi teringat dengan etika ilmu pengetahuan dalam kitab kifayat al-atqiya, sebuah kitab idola di pesantren-pesantren di Indonesia. Dalam kitab ini banyak dinukil beberapa pendapat ulama yang menjelaskan bahwa mengajar (ta’lim) adalah perbuatan yang mulia karena merupakan amaliyah ibadah kepada Allah. Juga disebutkan ilmu yang harus dikaji oleh para pencari ilmu adalah ilmu yang bermanfaat (ilmu Nafi’), yaitu ilmu yang dapat membimbing pemiliknya untuk mendekatkan diri kepada Allah, ilmu yang memaksa pemiliknya untuk mengendalikan syahwat kesenangannya, juga menahan nafsu. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dilaksanakan oleh para ilmuwan dalam rangka beribadah kepada Allah dan melksanakan perntah-perintahnya. Artinya ilmu manfaat dalam diskusi kitab kuning adalah ilmu yang dimiliki oleh para ilmuwan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga para pemilik ilmu itu lebih baik, lebih dekata kepada Allah juga dapat membuat orang-oarang sekitanya menjadi masyarakat yang lebih baik. Atau dapat juga dikatakan bahwa para pemilik ilmu mempunyai kewajiban secara internal dan eksternal. Secara internal dia dapat membentuk kepribadian yang shalih menurut ukuran Allah Swt, juga dapat melakukan perubahan-perubahan social masyarakatnya. Karena seorang ilmuwan dengan praktik ilmu yang dilakukan sudah dapat menjadi contoh bagi orang-orang sekitarnya yang menirukannya. Ini sejalan dengan apa yang diucapkan oleh kuntwijoyo dalam bukunya paradigma Islam, bahwa seorang menjadi ilmuwan itu tidak cukup, tetapi harus menjadi cendekiawan. Perbedannya Ilmuwan itu adalah orang yang mempunyai banyak ilmu. Sedangkan cendekiawan adalah seorang ilmuwan yang berpartisipasi aktif dalam perubahan-perubahan masyarakat, pemberdayaan dan lain sebagainya. Dalam rangka aktualisasi diri mengamalkan ilmu dan amal dalm realitas social. Inilah kemudian yang menjadikan seorang pengajar menjadi lebih dekat dengan masyarakatnya dibanding dengan profesi-profesi yang lain, dan menjadi idola ditengah-tengah masyarakatnya.

Etika yang lain menjadi seorang pengajar adalah selalu adanya pembaruan dari ilmu yang dia tekuni. Seorang yang menyampaikan ilmu kepada muridnya harus selalu menyampaikan hal-hal baru dalam rangka pengembangan ilmu, walaupun kajian ilmu-ilmu dasar teoritis tidak dapat ditinggalkan. Hal ini dalam rangka memenuhi perkembangan masyarakat yagn selalu bergerak, berubah dinamis sesuai dengan perputaran zaman. Zaman sebelum kemerdekaan ilmu yang ditekankan adalah semangat berkorban untuk kemerdekaan bangsanya, pada zaman orde baru kajian ilmiyah lebih kepada pembangunan, pada zaman reformasi smapai sekarang diamika masyarakat begitu pesat, apalagi kehidupan masyarakat didukung oleh ilmu pengetahun dan teknologi, yang cirri khasnya adalah kecepatan gerak, perubahan, instan. Maka seorang pengajar pada level apapun harus selalu update terhadap perkembangan ilmu dan perkembangan masyarakat. Dengan begitu ilmu yang disampaikan relevan, kontekstual dengan kebutuhan masyarakat. Artinya watak dinamis dalam ilmu pengetahuan harus dimiliki oleh para pengajar ilmu. Maka tidak heran dalam dunia kampus seorang dosen mempunyai kewajiban untuk menemukan ilmu-ilmu baru, teori-teori baru, dalm bentuk kegiatan penelitian (research). Sebagaimana yang dirasakan penulis selalu ketinggalan dalam dinamika perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dikarenakan kegiatan kita tidak hanya mengajar di kampus tetapi juga mengajar para santri, yang membutuhkan keistiqamahan, keteladanan dan ketekunan dalam mengawal mereka. Mengajar di pesantren tidak kalah menariknya dengan mengajar diseolahan atau kampus-kampus perguruan tinggi.

Mengajar di kampus atau perguruan tinggi di era sekarang dituntut untuk dinamis dalam berbagai bidangnya, baik dari sisi materi ilmunya maupun dari sisi pelaporannya, kalau seseorang mengajar di sekolah formal ketinggalan informasi perkembangan dan perubahannya maka dia juga akan mengalami stagnasi, baik dari sisi karir maupun ilmunya. Zaman sekarang adalah era Informasi dan Teknologi. Perkembangan ilmu begitu dinamis dan cepatnya dari waktu ke waktu. Salah satu contothnya adalah perkembangan ilmu baik dari sisi teoritis aksiologis, metodologis –epsitemologis maupun aksiologis praktis. Seorang dosen sekarang sudah begitu canggihnya dalam melaksanakan tridarma perguruan tinggi, mereka tidak hanya kaya dalam sisi khazanah ilmu-ilmu teoritis, berbagai pendekatan dalam berbagai disiplin ilmu telah mereka kuasai dan kembangkan sesuai dengan spesialisasinya. Betapa seorang dosen zaman sekarang, rajin membeli buku, kitab-kitab kuning baik dalam dalam negeri maupun luar negeri. Dari sisi penelitian merkea selalu aktif untuk menulis di berbagai jurnal baik nasioanal maupun internasional. Maka praktis seorang dosen menjadi hamaba yang mulia dengan ilmu dan profesinya sebagai pengajar dan peneliti diperguruan tinggi.

Akhirnya. seorang guru, kyai, dosen yang mempunyai aktifitas pendidikan dan pengajaran kepda diswa atau masyarakat, senyampang dijalani sesuai dengan kode etik yang sudah berlaku di dalam profesinya, dia akan menjadi orang yang sukses dan mulia, baik ditengah-tengah masyarakat, di sisi Allah atau di hadapan anak didiknya yang selalu mengidolakan gurunya. Semoga kita semua selalu diberi kesabaran untuk menjadi guru di lingkungan kita masing-masing. Amiin.

Categories: Kajian

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: